Search for a command to run...
Penelitian ini membahas eufemisme dalam bahasa politik Indonesia sebagai strategi linguistik sekaligus instrumen kekuasaan. Dengan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan, analisis dilakukan melalui kerangka teori Allan & Burridge, analisis wacana kritis Fairclough, serta refleksi Orwell tentang bahasa politik. Data diperoleh dari teks politik, media massa, dokumen resmi, dan literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eufemisme dipakai untuk menyamarkan realitas dan mereduksi resistensi publik. Istilah seperti “penyesuaian harga BBM”, “perampingan organisasi”, atau “tindakan tegas terukur” memperlihatkan bagaimana bahasa digunakan untuk membingkai persepsi sekaligus melegitimasi kebijakan. Dalam perspektif Allan & Burridge, eufemisme dapat dibedakan menjadi political correctness dan concealment. Analisis Fairclough menegaskan bahwa bahasa semacam ini direproduksi oleh media hingga membentuk hegemoni wacana, sedangkan refleksi Orwell menunjukkan bahaya ketika kebohongan dibuat terdengar jujur dan penindasan tampak wajar.Kesimpulannya, eufemisme politik di Indonesia bukan hanya fenomena linguistik, tetapi juga praktik sosial-politik yang berimplikasi pada transparansi, akuntabilitas, dan kualitas demokrasi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis untuk membaca makna tersembunyi di balik istilah politik serta menghadirkan wacana tandingan yang lebih jujur.