Search for a command to run...
Makalah ini menyajikan kajian historis-ekonomi komprehensif tentang struktur ekonomi masyarakat pada masa kehidupan Siddhattha Gautama (ca. 563–483 SM), periode yang dalam sejarah India dikenal sebagai zaman Mahajanapada. Dengan menggunakan pendekatan multi-sumber yang mengintegrasikan sumber tekstual primer (Kanon Pali, Arthashastra Kautilya), data arkeologis dan numismatik, serta literatur sekunder akademis kontemporer, kajian ini menganalisis tujuh dimensi utama ekonomi: (1) sistem kepemilikan dan pengelolaan lahan, (2) kerangka perpajakan dan fiskal kerajaan, (3) evolusi sistem mata uang dari barter menuju moneter punch-marked coins, (4) arsitektur perdagangan dan jaringan transportasi lintas wilayah, (5) stratifikasi sosial dan organisasi tenaga kerja, (6) konektivitas ekonomi dengan peradaban luar (Persia Akhemenid, Asia Tengah, Asia Tenggara proto-maritim), serta (7) peran institusional sangha Buddhis dalam redistribusi ekonomi. Temuan utama menunjukkan bahwa ekonomi era ini dapat dikarakterisasi sebagai mixed agrarian-commercial economy — dominan agraris dengan 70–80% populasi bergantung pada pertanian, namun dengan sektor perdagangan dan manufaktur yang tumbuh dinamis, didukung oleh inovasi moneter (punch-marked coins) dan institusi finansial proto-modern (setthi, sreni). Ketimpangan ekonomi yang tajam, sebagaimana tercermin dalam teks-teks Buddhis, menjadi salah satu latar sosial penting bagi kemunculan reformasi etis Buddhisme. Kajian ini berkontribusi pada pemahaman tentang dasar-dasar sejarah ekonomi Asia Selatan dan relevansi perspektif ekonomi Buddhis dalam wacana akademis kontemporer. Kata Kunci: Mahajanapada, ekonomi Buddha, punch-marked coins, karshapana, sistem pajak India kuno, perdagangan Uttarapatha, stratifikasi sosial Varna-Jati, Arthashastra, setthi, sreni