Search for a command to run...
Penelitian bertujuan menganalisis sejauh mana motivasi belajar dan self-efficacy secara parsial maaupun simultan mampu memprediksi kemampuan pemecahan masalah matematika pada topik persamaan linear satu variabel. Metodologis penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 125 siswa kelas VIII SMPN 9 Cirebon ditetapkan sebagai sampel melalui prosedur random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga instrumen, yakni angket motivasi belajar, angket self-efficacy, dan tes pemecahan masalah. Ketiga instrumen tersebut telah diuji kelayakannya melalui serangkaian prosedur validitas dan reliabilitas. Analisis data dilaksanakan dengan teknik korelasi Pearson dan regresi linier berganda menggunakan SPSS. Hasil analisis deskriptif menunjukkan rerata skor kemampuan pemecahan masalah sebesar 77,08 (SD = 11,09), motivasi belajar 3,27 (SD = 0,38), dan self-efficacy 3,09 (SD = 0,44). Hasil uji korelasi Pearson mengonfirmasi adanya hubungan positif dan signifikan secara statistik antara motivasi belajar (r = 0,703; p < 0,01) serta self-efficacy (r = 0,768; p < 0,01) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Secara simultan, model regresi dinyatakan fit (F = 143,770; p < 0,001) dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,702, yang mengindikasikan bahwa kedua variabel independen memberikan kontribusi sebesar 70,2% terhadap variansi kemampuan pemecahan masalah, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain di luar penelitian ini. Secara parsial, self-efficacy (β = 0,547) ditemukan sebagai prediktor yang lebih dominan dibandingkan motivasi belajar (β = 0,401) dalam model regresi Y = -3,247 + 11,633X1+ 13,660X2. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa perlu ditopang oleh pendekatan pembelajaran yang secara bersamaan menguatkan motivasi intrinsik dan membangun rasa percaya diri siswa dalam menghadapi tantangan matematis
Published in: Jurnal Riset Pembelajaran Matematika Sekolah
Volume 10, Issue 1, pp. 45-53