Search for a command to run...
ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major health issue in Mataram City, particularly in Mandalika Village, which experienced a surge of 66 cases in August 2025. Poor environmental sanitation and low community knowledge are strongly suspected to be the primary driving factors for this transmission. This study aims to analyze the relationship between environmental sanitation and the level of knowledge with the incidence of DHF in the working area of the Cakranegara Public Health Center, Mataram City. This study used an observational study design with a quantitative approach. The sample consisted of 110 household heads in Mandalika Village selected using the simple random sampling method. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Chi-square test with a 95% confidence level. Univariate analysis showed that 52.7% of respondents had experienced DHF. The majority of respondents had poor environmental sanitation (52.3%) and a poor level of knowledge (49.1%). Bivariate analysis results showed a significant relationship between environmental sanitation and the incidence of DHF (p = 0.038). Respondents with poor sanitation had a higher risk of contracting DHF compared to those with good sanitation. There is a significant relationship between environmental sanitation and the incidence of DHF at the Cakranegara Public Health Center. This emphasizes the importance of increasing environmental improvement efforts and consistent community education to reduce the incidence of DHF. Keywords: DHF, Environmental Sanitation, Knowledge, Cakranegara Public Health Center. ABSTRAK Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan utama di Kota Mataram, khususnya di Kelurahan Mandalika yang mengalami lonjakan kasus hingga 66 kasus pada Agustus 2025. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk dan rendahnya pengetahuan masyarakat diduga kuat menjadi faktor pendorong utama penularan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sanitasi lingkungan dan tingkat pengetahuan dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Cakranegara, Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel berjumlah 110 Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Mandalika yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dan Spearman’s Rank Correlation Coefficient dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis univariat menunjukkan 52,7% responden mengalami DBD. Sebagian besar responden memiliki sanitasi lingkungan yang buruk (52,3%) dan tingkat pengetahuan yang buruk (49,1%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian DBD (p = 0,038). Responden dengan sanitasi buruk memiliki risiko lebih tinggi terkena DBD dibandingkan dengan yang bersanitasi baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian DBD di Puskesmas Cakranegara. Hal ini menekankan pentingnya peningkatan upaya perbaikan lingkungan dan edukasi masyarakat secara konsisten untuk menekan angka kejadian DBD. Kata Kunci: Kejadian DBD, Sanitasi Lingkungan, Tingkat Pengetahuan.