Search for a command to run...
ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major infectious disease and global health concern, particularly in Indonesia. The Molecular Rapid Test (TCM) plays a critical role in the early detection of tuberculosis and its resistance to rifampicin. This study aimed to describe the results of TCM testing among patients with suspected pulmonary TB at RS Tk.II Dustira. This study used a descriptive cross-sectional study design and analyzed 586 patient records obtained from the Tuberculosis Information System (SITB) and hospital medical records between January and March 2025. Data were analyzed descriptively and presented as frequency and percentage distributions. Most patients tested MTB-negative (85%), followed by MTB-rifampicin-sensitive (14%) and rifampicin-resistant (1%). The majority of patients were male (56%) and belonged to the adult age group (18-59 years; 59%). Comorbidity documentation showed a high proportion of unknown status, with 83% recorded as having an unknown Diabetes mellitus status and 89% an unknown HIV status.These findings highlight the need to improve comorbidity documentation to support more effective management of TB cases. Keywords: Pulmonary TB, TCM, Comorbidity, Age, Gender. ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Deteksi dini menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) berperan penting dalam diagnosis TB dan resistensinya terhadap rifampisin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran hasil pemeriksaan TCM pada pasien suspek TB Paru di RS Tk.II Dustira. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 586 pasien dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan rekam medis selama bulan Januari hingga Maret 2025. Analisis dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Mayoritas pasien menunjukkan hasil MTB negatif (85%), MTB rifampisin sensitif (14%), dan rifampisisn resisten (1%). Secara demografi, pasien mayoritas berjenis kelamin laki-laki (56%) dan kelompok usia dewasa (18-59 tahun ; 59%). Pada pencatatan status komorbid ditemukan prevalensi status tidak diketahui yang cukup tinggi dengan 83% tidak memiliki data status DM (83%) dan 89% tidak diketahui status HIV-nya. Temuan ini menekankan perlunya peningkatan pencatatan komorbiditas untuk mendukung penatalaksanaan kasus TB paru yang lebih efektif. Kata Kunci: TB Paru, TCM, Komorbiditas, Usia, Jenis Kelamin.
Published in: MAHESA Malahayati Health Student Journal
Volume 6, Issue 4, pp. 72-82