Search for a command to run...
Anemia tetap menjadi masalah kesehatan global dengan beban yang tinggi, terutama pada wanita usia subur dan remaja perempuan. Global Nutrition Report 2021 melaporkan lebih dari 570 juta anak, remaja putri, dan wanita usia subur mengalami anemia, sementara prevalensi anemia pada wanita usia reproduktif diprediksi mencapai 31,2% pada tahun 2025, jauh di atas target global. Defisiensi zat besi merupakan penyebab utama dan berdampak pada penurunan kemampuan fisik, kognitif, serta imunitas. Di Indonesia, tingginya anemia pada remaja berhubungan dengan pola makan tidak seimbang, kurangnya edukasi gizi, dan fenomena double burden of malnutrition (DBM). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa SMP di Tangerang mengenai pencegahan anemia dan pentingnya pola makan bergizi seimbang. Edukasi diberikan kepada 167 siswa, dengan 111 peserta mengisi pretest dan post-test secara lengkap. Peserta memiliki rerata usia 12,81 tahun, dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki (58,6%). Hasil pretest menunjukkan pengetahuan dasar yang cukup baik (78,68±18,56), meskipun masih terdapat miskonsepsi mengenai penyerapan zat besi non-heme. Setelah edukasi, nilai post-test meningkat menjadi 83,17±17,77, menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 5,7%. Proporsi peserta dengan kategori pengetahuan baik juga meningkat dari 59,2% menjadi 73,9%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis sekolah efektif dalam memperkuat pemahaman remaja mengenai anemia dan konsumsi tablet tambah darah. Diperlukan edukasi berkala serta penguatan materi terkait perbedaan zat besi heme dan non-heme, serta kolaborasi dengan sekolah dan tenaga kesehatan untuk keberlanjutan program.